Tampilkan postingan dengan label My Mom's Prayer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Mom's Prayer. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juni 2010

Di Doa Ibuku Ada Namaku Disebut

Aku dan tiga anak gadisku suka menyanyikan lagu-lagu rohani sebelum tidur. Diantara lagu-lagu rohani yang biasa kami nyanyikan, Marchya si bungsu sangat suka sekali dengan lagu “Di Doa Ibu Namaku Disebut” yang dinyanyikan oleh Nikita waktu masih kecil. Dengan Ipod di telinganya, ia bisa menyanyikan dengan nadanya sendiri, yang hmm… naik turun sesukanya.

Pada suatu malam, saat aku memandang wajah anak-anakku yang tertidur pulas setelah menyanyikan beberapa lagu rohani, dan salah satunya adalah lagu “Di Doa Ibu Namaku Disebut”, membawaku dalam perenungan panjang. Teringat masa kecilku, teringat pada Ibuku yang rajin berdoa. Aku juga berpikir tentang masa depan anak-anakku dengan segala kesulitan dan tantangan yang akan aku dan anakku hadapi. Sejak malam itu, setiap kata dan kalimat dalam setiap bait bisa membuatku menangis. Inilah perenunganku

Bait pertama mengingatkanku akan masa kecilku. Sering sekali aku melihat mamaku duduk di tepi tempat tidurnya, berdoa lama sekali. Entah apa saja yang didoakannya, kala itu aku tak terlalu perduli. Tampaknya ia begitu menikmati saat-saat itu, saat ia menyampaikan isi hatinya dengan berdoa kepada Penciptanya.

Dulu, ketika masih kecil, kami (abangku, aku dan adik-adikku), tak terlalu ambil pusing berapa lama pun mamaku berdoa, kami biarkan saja. Tetapi, kami baru bereaksi ketika kami berdoa bersama-sama dengan mama.
Doa bersama biasanya kami lakukan ketika makan, atau pada waktu-waktu khusus. Paling sering memimpin doa adalah mama atau bapak. Karena mama berdoanya panjang, kami sering berusaha agar jangan mama yang memimpin doa.

Di dalam doanya, selalu ada banyak nama dan kondisi yang disebut. Terkadang saat doa makan pun mama tidak bisa singkat berdoa. Bayangkan, di saat perut sudah lapar, di saat makanan begitu menggoda, mama masih teringat mendoakan selain makanan yang akan kami santap. Apalagi biasanya mama berdoa dalam bahasa Batak, yang tidak terlalu kami mengerti seluruhnya. Maka, bisa dibayangkan betapa membosankannya saat berdoa itu. Terkadang, ketika tidak ada salah satu dari kami yang bersedia ditunjuk untuk berdoa, maka mama dengan sukarela akan mengajak berdoa. Dengan spontan, kami berkata, “Bapak aja !” Bisa saja sebenarnya mama tersinggung, tapi ia hanya tersenyum dan membiarkan Bapak yang ambil alih. Atau kami bilang, “Doanya jangan panjang-panjang lah Mak (mamak, begitu kami memanggilnya).”

Saat aku masih tinggal bersama orangtuaku, seringkali aku melihat mamaku berdoa. Doa yang paling lama adalah doa malam menjelang tidur. Entah apa saja yang didoakannya.

Pernah satu ketika aku mencoba ikut berdoa bersamanya menjelang tidur di malam hari, ingin tahu apa saja sebenarnya yang didoakannya. Sampai terkantuk-kantuk aku mendengar ibu berdoa. Yang aku ingat, ia menyebutkan banyak nama dan banyak permasalahan. Dan nama kami enam bersaudara, satu persatu disebutkannya di dalam doanya. Mestinya biar cepat kan lebih baik kalau disebut sekalian saja, “Aku berdoa untuk anak-anakku…..” Kan itu bisa menghemat waktu dan tidak membosankan, dibanding kalau satu persatu nama disebutkan. Itu pikiran praktisku saat itu..

Setelah aku menikah dan memiliki keluarga sendiri, ia pun masih tetap berdoa menyebut namaku, nama kami satu persatu. Mungkin sekarang makn lama, karena sudah ada menantu-menantu dan cucu-cucunya.

Setelah sudah memiliki anak, aku semakin menyadari bahwa segala sesuatu yang kuperoleh saat ini tidak lepas dari doa mamaku.

Hal ini terutama kusadari ketika aku berhadapan pada kenyataan bahwa banyak sekali tantangan yang kuhadapi sebagai orangtua agar anak-anakku bertumbuh dalam arah yang benar. Aku tidak cukup hanya menyediakan makan, pakaian dan kebutuhan fisik mereka lainnya, tapi mesti juga harus mencukupi batin dan jiwa mereka. Apalagi saat ini, banyak pengaruh luar yang dapat saja menyeret mereka ke arah yang salah. Narkoba yang sekarang sudah diedarkan di TK dan SD, globalisasi informasi yang dapat dengan mudah diperoleh pun jika tidak cermat dapat memberi pengaruh negatif.

Kekuatiran demi kekuatiran memenuhi pikiranku. Apalagi aku bekerja, tidak dapat selalu mendampingi mereka. Akhirnya aku menyerah, dan bilang pada Tuhan, “Tuhan, aku tidak dapat selalu ada di samping anak-anakku, tapi aku percaya Engkau tidak akan meninggalkan mereka. Kuserahkan mereka ke dalam tanganMU, bentuklah mereka seturut kehendakMu.”

Seperti pada bait kedua, aku pun sekarang sering teringat akan saat-saat ibuku berdoa. Persepsiku sudah berbeda. Dulu ketika aku masih kecil, aku sering menghindar berdoa bersama mama, tetapi sekarang aku bersyukur karena selalu ada namaku disebut dalam doa mamaku.

Sabtu, 02 Januari 2010

DOA IBUKU

Lagu : Di Doa Ibuku Namaku Disebut

Lagu / Lirik: Peter P Bilhorn
Terjemahan: EL Pohan

Di waktuku masih kecil, gembira dan senang
Tiada duka ku kenal, tak kunjung mengerang
Di sore hari nan sepi, ibuku bertelut
Sujud berdoa ku dengar namaku disebut

Reff :
Di doa ibuku, namaku disebut
Di dalam doa ibuku, ada namaku disebut

Seringlah ini ku kenang, di masa yang berat
Di kala hidup mendesak dan nyaris ku sesat
Melintas gambar ibuku sewaktu bertelut
Kembali sayup kudengar, namaku disebut

Sekarang ia tlah pergi ke rumah yang kekal
Namun kasihnya padaku selalu kukenang
Kelak di sana kami pun bersama bertelut
Memuji Tuhan yang dengar, namaku disebut
--------------------------

Lagu ini, pertama kali kudengar ketika aku masih di bangku kuliah tingkat 2. Ketika itu, aku ikut bergabung dalam paduan suara yang mengisi acara Wisuda Pelantikan Sarjana (S1, S2 dan S3). Kebetulan Fakultasku yang mendapat giliran sebagai panitia.

Kami, mahasiswa tingkat dua, saat itu baru saja tahun pertama berada di Fakultas, setelah sebelumnya 1 tahun berada di Tingkat Persiapan Bersama. Oleh kakak kelas yang menjadi panitia, beberapa orang dari kami (mahasiswa –mahasiswi tingkat 2), ditugaskan untuk ikut serta dalam paduan suara. Yang lainnya dibagi dalam tugas-tugas lainnya. Dan aku ikut dalam paduan suara, meski suaraku tidak terlalu bagus.

Ada beberapa lagu yang harus kami nyanyikan. Lagu "Di Doa Ibu Namaku Disebut" merupakan salah satu lagu yang dinyanyikan pada saat para mahasiswa S2 dan S3 yang lulus diumumkan dan sambil lagu terus berkumandang, mereka maju ke depan untuk menerima ijasah dan resmi dilantik.

Barangkali karena sebagian besar mahasiswa S2 dan S3 sudah berumur, dan karena itu mungkin ada diantara mereka memiliki ibu yang sudah sangat tua atau malah sudah meninggal, maka suasana pengumuman terasa syahdu. Saat satu persatu mahasiswa S2 dan S3 maju ke depan, lagu ini dikumandangkan oleh paduan suara kami. Saat kulihat ada sebagian yang menghapus air matanya, aku pun menjadi tenggelam dalam keharuan, lebih meresapi makna syair sampai ke hati. Sambil menyanyi, tak terasa air mataku mengambang, untuk tidak jatuh…..hmmm…

Konon katanya lagu ini sudah lama beredar, tapi aku baru pertama kali mendengarnya saat itu (1987 atau 1988). Saat itu, penghayatanku terhadap maknanya masih terbatas pada penghayatan terhadap lirik lagunya yang kemudian membuatku merinding hampir menangis ketika menyanyikannya. Mulanya, aku juga belum tahu bahwa lagu itu adalah lagu rohani. Baru beberapa bulan setelah aku menyanyikan lagu itu dalam paduan suara wisuda, barulah aku mengetahuinya. Dan setelah itu, beberapa kali aku mulai sering mendengar orang menyanyikannya, atau aku ikut menyanyikannya pada acara-acara perkumpulan mahasiswa Kristen

Sejak itu, aku semakin suka menyanyikan lagu ini, kecuali bait ke-3, karena Ibuku sampai saat ini masih sehat dan segar bugar. Karena mulai sering kudengar dan kunyanyikan, maknanya semakin terasa. Terkadang, sambil menyanyikan sendiri, apalagi ketika sedang rindu rumah, aku bisa sampai meneteska air mata. Teringat ibuku, jadi rindu bapak dan saudara-saudaraku. Rindu pulang, berkumpul bersama.

Setelah memiliki anak, makna lirik lagu itu terasa semakin dalam. Mungkin karena aku sekarang meresapinya dari dua cara pandang, yaitu sebagai anak dan sebagai ibu.

Sebagai anak
Aku merasakan kasih ibu yang luar biasa dalam hidupku. Segala sesuatu yang kudapat hari ini adalah tak pernah lepas berkat doa-doa yang selalu dipanjatkan oleh ibuku untuk segala yang terbaik bagi kami anak-anaknya. Dan aku percaya berkat doa ibuku yang tak henti, aku jadi terhindar dari segala godaan dan kejahatan. Aku mendapatkan banyak kasih dan berkat Tuhan, karena Tuhan sayang pada ibuku.

Sebagai ibu
Dengan segala kekuatiran terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak-anakku, mampukah aku memagari anak-anakku dengan doa-doaku, sehingga mereka dapat memperoleh yang terbaik dalam hidup mereka ? Mampukah aku menyediakan waktu khusus berdoa untuk anak-anakku, suamiku, keluargaku ? Menyisihkan waktuku, mengurangi sedikit waktu menonton, mengobrol, chatting, main game, tidur, dan lain-lain, untuk berdoa bagi mereka yang aku cintai, bagi negaraku, bagi gerejaku, bagi teman dan sahabat yang kesulitan, dan lainnya. Seperti yang dilakukan ibuku setiap hari...

Ibuku, teladan bagiku untuk jadi rumah doa.